Senin, 13 Maret 2017

Kesetaraan Gender, Emansipasi Kebablasan

Kampanye emansipasi wanita masih terus hangat untuk dibicarakan, apalagi setiap kali menjelang peringatan Hari
Kartini dan Hari Ibu. Tentunya, yang paling semangat dan getol mengusung persoalan ini adalah para aktivis feminisme.
Rayuan Feminisme
      Gerakan feminisme, merekalah yang paling banyak mengompori kaum Hawa untuk terjun di luar rumah dengan porsi waktu yang lebih lama, sementara di rumah, cukup malam hari saja. Itu pun kalau tidak lembur.  Isu-isu yang mereka lontarkan sangat spektakuler, menarik simpati dan membangunkan semangat pemberontakan bagi kaum Hawa. Gerakan ini bagaikan hembusan angin surgawi. Mereka menanamkan pikiran bahwa selama ini mereka  memiliki hak dan kewajiban yang sama, akan tetapi “dirampas” oleh kaum laki-laki. Atau dengan kata lain, bukan karena kodrat wanita yang menjadikan ia dkuasai laki-laki, namun dipolitisir oleh kaum laki-laki itu sendiri.
Mereka berpikir, kalau laki-laki tidak hamil, maka wanita juga berhak untuk menolak ‘dihamili’, meski oleh suaminya sendiri. Jika laki-laki tidak menyusui anak, maka wanita juga berhak menolak memberikan ASI. Sebaliknya, kalo laki-laki jadi direktur, pilot, petinju, dan seterusnya, maka wanita juga boleh. Begitu seterusnya. Inilah emansipasi kebablasan.
Sekilas tentang R.A. Kartini
            Berbicara tentang emansipasi wanita di negeri ini, belum sempurna tanpa mengangkat tokoh wanita R.A Kartini. Bahkan para aktivis feminisme menganggap bahwa peletak dasar perjuangan hak-hak kaum feminim di negeri ini adalah Ibu Kartini. 
            Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya “Menemukan Sejarah” (hal. 183), menuliskan komentar Kartini, “Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang seteguh-teguhnya di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.”
            Dijelaskan pula bahwa semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” diilhami oleh cahaya Al Qur’an yang menerangi hatinya, Minazhzulumâti ilân nûr (Dari kegelapan kepada cahaya Islam).
            Hal itu terjadi saat beliau mengalami kebingungan setelah melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri (Belanda). Bercerita tentang apa saja, dan ternyata juga tentang agama. Jadi, bukan cuma bicara tentang emansipasi. Ternyata kalau ditilik, perjuangan R.A. Kartini, paling tidak menurut pengarang buku “Menemukan Sejarah”, masih ada kaitannya dengan pergerakan kebangkitan, yang bernuansa Islami. Kaum feminis mesti tahu soal itu. Meskipun memang bukan kesimpulan akhir, sebab Kartini juga konon kabarnya baru sebatas proses berpikir ke arah Islam. Tapi itu pun sudah pantas diakui sebagai prestasi tersendiri bagi seorang wanita yang hidup di tengah kehidupan bangsawan dan di masa penjajahan. Namun, Kartini keburu meninggal di usia muda, 25 tahun. Bandingkan dengan “Kartini-Kartini kontemporer” sekarang ini, yang mengaku mengidolakan Kartini, mereka tidak terilhami oleh Al Qur’an, bahkan justru meletakkan Al Qur’an di bawah tapak kaki mereka. Wallâhul Musta’an. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar