Kampanye emansipasi wanita masih terus hangat
untuk dibicarakan, apalagi setiap
kali menjelang peringatan Hari
Kartini dan Hari Ibu. Tentunya, yang paling semangat dan getol mengusung persoalan ini adalah para aktivis feminisme.
Kartini dan Hari Ibu. Tentunya, yang paling semangat dan getol mengusung persoalan ini adalah para aktivis feminisme.
Rayuan Feminisme
Gerakan
feminisme, merekalah yang paling banyak mengompori kaum Hawa untuk terjun di
luar rumah dengan porsi waktu yang lebih lama, sementara di rumah, cukup malam
hari saja. Itu pun kalau tidak lembur.
Isu-isu yang mereka lontarkan sangat spektakuler, menarik simpati dan membangunkan
semangat pemberontakan bagi kaum Hawa. Gerakan ini bagaikan hembusan angin
surgawi. Mereka menanamkan pikiran bahwa selama ini mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama, akan
tetapi “dirampas” oleh kaum laki-laki. Atau dengan kata lain, bukan karena
kodrat wanita yang menjadikan ia dkuasai laki-laki, namun dipolitisir oleh kaum
laki-laki itu sendiri.
Mereka
berpikir, kalau laki-laki tidak hamil, maka wanita juga berhak untuk menolak
‘dihamili’, meski oleh suaminya sendiri. Jika laki-laki tidak menyusui anak, maka wanita juga berhak menolak
memberikan ASI. Sebaliknya, kalo laki-laki jadi direktur, pilot, petinju, dan
seterusnya, maka wanita juga boleh. Begitu seterusnya. Inilah emansipasi
kebablasan.
Sekilas tentang R.A. Kartini
Berbicara tentang emansipasi wanita
di negeri ini, belum sempurna tanpa mengangkat tokoh wanita R.A Kartini. Bahkan
para aktivis feminisme menganggap bahwa peletak dasar perjuangan hak-hak kaum feminim di negeri ini adalah Ibu Kartini.
Prof. Ahmad
Mansur Suryanegara, dalam bukunya “Menemukan Sejarah” (hal. 183), menuliskan
komentar Kartini, “Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia,
kami berpegang seteguh-teguhnya di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun
menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.”
Dijelaskan pula
bahwa semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” diilhami oleh cahaya Al Qur’an
yang menerangi hatinya, Minazhzulumâti ilân nûr (Dari kegelapan kepada
cahaya Islam).
Hal itu terjadi saat beliau mengalami
kebingungan setelah melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar
negeri (Belanda). Bercerita tentang apa saja, dan ternyata juga tentang agama.
Jadi, bukan cuma bicara tentang emansipasi. Ternyata kalau ditilik, perjuangan
R.A. Kartini, paling tidak menurut pengarang buku “Menemukan Sejarah”, masih
ada kaitannya dengan pergerakan kebangkitan, yang bernuansa Islami. Kaum feminis mesti tahu soal
itu. Meskipun memang bukan kesimpulan akhir, sebab Kartini juga konon kabarnya
baru sebatas proses berpikir ke arah Islam. Tapi itu pun sudah pantas diakui
sebagai prestasi tersendiri
bagi seorang wanita yang hidup di tengah kehidupan bangsawan
dan di masa penjajahan. Namun, Kartini keburu meninggal di usia muda, 25 tahun.
Bandingkan dengan “Kartini-Kartini kontemporer” sekarang ini, yang mengaku
mengidolakan Kartini, mereka tidak terilhami oleh Al Qur’an, bahkan justru
meletakkan Al Qur’an di bawah tapak kaki mereka. Wallâhul Musta’an.
